Tebu Sehektar 180 Ton

Produksi tebu di Nakhon Ratchasima, Thailand, 180 ton per ha.

Produktivitas tebu di lahan milik Universitas Teknologi Suranaree (SUT), Thailand, itu sungguh fantastis: 180 ton per ha. Kampus di Provinsi Nakhon Ratchasima, itu mengelola 4,88 ha untuk budidaya tebu. Padahal, sebelumnya produktivitas hanya 24 ton per ha. Harap maklum, daerah itu bercurah hujan amat rendah, 1.028 mm per tahun dan suhu harian yang panas.

 

Kunci sukses tingginya produktivitas tebu negeri jiran adalah penggunaan irigasi tetes. Setelah menerapkan teknologi itu, juga terjadi penghematan pupuk. Dalam 1 perode tanam selama 12 bulan. Kebutuhan pupuk nitrogen dan fosfor hanya 30-70 kg per ha dengan populasi 7.000-8.300 tanaman. Sebelumnya, kebutuhan pupuk nitrogen per musim tanam lebih dari 200 kg per ha.

Di tepi lahan tebu 4,88 ha itu terpasang unit pompa air, selang, nozel, dan berbagai macam sensor. Saat tanaman kekurangan air, sensor mendeteksi dan langsung mengalirkan campuran air dan nutrisi. “Pemberian nutrisi dan air mesti tepat jumlah dan tepat waktu,” kata Dr Sodchol Wonprasaid, konsultan kebun dari Institut Teknologi Agrikultur, Universitas Teknologi Suranaree.

Sayang, teknologi tinggi sebanding dengan biaya. Menurut Dr Ace, biaya pengadaan irigasi tetes itu mencapai USD10.000-setara Rp95-juta. Itu sebabnya pihak SUT masih mencari cara membuat sensor dan peralatan yang lebih terjangkau. Tujuannya agar pekebun di sana mampu menerapkannya. Sebab, tebu menjadi komoditas ekspor potensial. Thailand eksportir gula mentah terbesar kelima setelah Brasil, India, Kuba, dan China. Pada 2005, nilai ekspor gula mentah mencapai 29,541-juta baht setara Rp10,04-triliun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *