Riset dan Pangan

Aktor sejati produksi pangan adalah petani, peternak, pembudidaya ikan, dan nelayan. Mereka juga tulang punggung swasembada pangan tanahair. Peningkatan produksi pangan mustahil tercapai tanpa kontribusi para aktor itu. Indikasi pencapaian ketahanan pangan adalah akses-secara fisik dan finansial-semua lapisan masyarakat terhadap sumber pangan. Akses itu bukan sekadar untuk kelangsungan hidup, tapi juga untuk kesehatan dan produktivitas. Konsisten dengan ketersediaan akses itu, pembangunan pertanian mesti berorientasi pemenuhan kebutuhan pasar domestik.

 

Kemandirian pemenuhan pangan domestik menjadi modal dasar menangkal dampak krisis global. Masalahnya, tuntutan masyarakat senantiasa berubah. Dulu orang memelihara ayam selama berbulan-bulan untuk dipotong saat hari raya, sekarang ayam potong cuma perlu beberapa pekan saja telur menetas sampai siap potong. Peran teknologi bakal nyata kalau digunakan dalam produksi barang atau jasa untuk perbaikan kehidupan. Salah satu faktor untuk memperbaiki kehidupan adalah penyediaan pangan dalam jumlah dan gizi cukup, aman, sesuai selera pasar, serta terjangkau secara fisik dan ekonomi oleh semua lapisan.

Agar mudah diterapkan, pengembangan teknologi mesti mengenali calon pengguna potensial. Dalam konteks pangan, calon pengguna primer teknologi adalah aktor produksi pangan. Di bawahnya-pengguna teknologi tingkat sekunder-adalah pengolah bahan segar menjadi produk olahan. Namun, kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi calon pengguna mesti dipahami supaya solusi teknologi yang ditawarkan tidak sia-sia. Perlu pemahaman komprehensif agar teknologi yang ditawarkan sesuai kapasitas pemahaman calon pengguna sehingga teknologi bisa langsung diadopsi.

Salah satu hambatan pencapaian ketahanan pangan adalah minimnya kontribusi teknologi. Hal itu terutama disebabkan teknologi yang berkembang tidak menjawab kebutuhan dan persoalan nyata pengguna atau tidak sesuai kapasitas adopsi inovasi oleh pengguna. Akibatnya banyak teknologi pertanian yang diperkenalkan sia-sia lantaran pengguna tidak menadopsi inovasi itu. Hambatan paling umum seringkali bukan kendala teknis, tapi lebih kurang faktor biaya. Kebanyakan teknologi modern mensyaratkan biaya tinggi dalam operasionalnya. Akibatnya teknologi itu tidak terjangkau pengguna, yang hasil produksinya-berupa komoditas pangan dan pertanian-hanya dilabeli harga rendah.

Itu artinya riset akademik, meski tidak langsung menjawab persoalan, mesti menjadi pijakan bagi riset selanjutnya yang lebih mengarah kepada solusi akhir. Untuk itu perlu kepedulian dan sensitivitas periset dan akademisi-terlepas dari bidang masing-masing-terhadap persoalan nyata di sector pertanian dan peternakan. Dunia akademik tidak bisa berpangku tangan berdiam diri, terisolir dari dunia nyata, dan menjadi menara gading. Riset yang berorientasi menjawab persolan riil pun mempunyai bobot akademik tinggi, asal konsisten dan sesuai metodologi riset baku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *