Alpukat Dori Enak Sekali

Cukup belah buah, kelupas kulitnya, lalu nikmati daging buah yang lembut dan manis.

Menikmati dori benar-benar membuat ketagihan. Sebuah berukuran sebesar pion bola gelinding tandas dalam hitungan menit oleh lima orang penikmatnya. Maklum saja citarasa dori memang memanjakan lidah. Daging buah yang lembut tanpa serat terasa manis. Tidak ada citarasa pahit di dekat kulit.

Perkenalkan ini dori, avokad dari pohon di halaman rumah milik Dori di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka-Belitung. Citarasanya seperti yang pernah digambarkan oleh peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) Solok, Sumatera Barat, Panca Jarot Santoso SP MS, “Rasanya lezat dan pulen, ada rasa manisnya juga.”

Ketika itu kandidat doktor Biologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung itu baru saja mencicipi buah dori dari kebun milik Hurhulis, juga warga Muntok. Nurhulis memanen dari pohon berumur 3 tahun yang baru perdana berbuah. Citarasa dori sudah menggoda padahal biasanya citarasa buah perdana kurang optimal karena tanaman baru belajar berbuah. Bobot buah Persea americana pada panen perdana itu mencapai 800 gram per buah. Oleh karena itu menurut Jarot dori potensial untuk dikembangkan.

Dori lalu menyodorkan buah avokad yang kulitnya sudah berwarna cokelat karena jatuh ke tanah dan dibiarkan berhari-hari. Buah segar biasanya berkulit hijau tua. “Walaupun kulitnya terlihat seperti buah busuk, tapi daging buahnya tetap enak, coba saja,” ujar Dori. Benar saja. Saat buah terbelah, daging buah tetap segar dan tidak berubah warna. Begitu dicecap, rasa daging buah tetap enak: pulen dan ada manisnya. “Itu berarti avokad itu tahan simpan meski kulit buah tidak lagi terlihat segar,” kata Delis, sapaan Nurhulis.

Avokad di kediaman Dori juga tak pernah terserang ulat Cricula trisfenestrata. Serangan ulat kipat mampu membuat semua daun habis disantap. Serangan hama itulah yang selama ini kerap menyebabkan masyarakat enggan menanam buah introduksi asal Meksiko itu.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *